Tidak Ada Mudik Jika Tidak Macet

Mudik lebaran sudah menjadi tradisi di Indonesia. Setiap tahunnya ketika Idul Fitri atau yang lebih dikenal lebaran tiba, orang-orang beramai-ramai kembali ke kampung halaman. Ada yang kampung halamannya masih satu provinsi hanya berbeda kota, ada yang  sudah berbeda provinsi, atau bahkan ada juga yang berbeda pulau sehingga harus ditempuh dengan kapal laut atau pesawat terbang. Dimanapun kampung halamannya, ketika lebaran tiba semua akan berusaha untuk kembali ke kampung halaman masing-masing.

Mulai masuk pada bulan Ramadhan, angkutan umum biasanya sudah mulai kebanjiran permintaan penumpang untuk mudik mulai H-7 sampai dengan hari H. Siapa cepat dia yang dapat, adalah motto para pemilik jasa angkutan umum dalam melayani permintaan. Pemudik yang kurang tanggap akan fenomena ini akan kesulitan dalam memperoleh tiket untuk mudik karena akan kehabisan. Namun, karena mudik sudah merupakan tradisi di Indonesia para pemudik sudah jauh lebih siap dan memesan tiket jauh-jauh hari.

Pemilik kendaraan pribadi. Mereka tidak disibukan dengan kepentingan mengantri tiket. Namun mereka disibukan dengan persiapan kondisi kendaraannya. Tidak hanya loket-loket penjual tiket mudik yang ramai dikunjungi orang, bengkel-bengkelpun kebinggungan menangani antrian kendaraan yang sekedar cek kelayakan atau sampai service berat. Seharian di bengkel sudah menjadi kegiatan biasa, karena antrian yang sangat panjang dan harus setia menunggu sampai pada gilirannya.

Tidak jauh berbeda dengan loket pembelian tiket untuk mudik dan bengkel, bank juga menjadi salah satu tradisi saat mudik lebaran. Tidak lain dan tidak bukan adalah para pemudik sibuk mengambil uang untuk persiapan di kampung halaman. Selain itu, para pemudik juga sibuk menukarkan uang dengan pecahaan kecil yang nantinya dikampung halaman akan dibagikan kepada anak-anak kecil yang sudah siap menerimanya.

Inilah tradisi utama saat mudik lebaran. Lebih dari sekedar membeli tiket untuk mudik, servise kendaraan, atau menukar uang. Inilah kemacetan. Tidak ada mudik tanpa kemacetan, itu yang sudah ada dipikiran masing-masing para pemudik. Dulu, kemacetan bisa diprediksi pada H-3 samapi H-1, tapi sekarang tidak.  Para pemudik sudah tidak bisa memprediksi kapan saat yang tepat untuk mudik agar tidak terkena macet, karena hari H sekalipun kendaraan masih lalu lalang di jalan raya baik yang bertujuan untuk berkunjung ke rumah saudara atau yang masih dalam perjalanan mudik. Tidak ada mudik jika tidak macet, itulah kalimat yang paling tepat untuk melengkapi tradisi mudik lebaran di Indonesia.

2 Komentar »

  1. sabar Said:

    btul btul btul * upin ipin*
    ciri khas mudik… ya macet..
    tapi tetap indah untuk dikenang

  2. isdiyanto Said:

    pengennya sih setiap pemudik bisa mudik dengan lancar, tanpa harus pake macet, tapi apalah daya kondisi jalan yang ada tidak sebanding dengan kendaraan yang akan lewat karena semuanya serba berbarengan, jadi ya macet dah…. tetep waspada dan hati-hati bagi yang mau balik ke tempat kerja semoga selamat, bisa kerja kembali dengan hati yang baru, dengan perilaku yang baru yang lebih baik setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan suci ramadhan dan saling bermaaf-maafan di hari raya nan fiti….


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: