Aktivis yang Akademikus

Dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Aktivitas perkuliahan dan aktivitas kemahasiswaan. Untuk menjadi mahasiswa yang bisa bersaing di dunia kerja nantinya, mahasiswa harus bisa menjadi aktivis sekaligus akademikus. Memiliki prestasi kuliah (IPK) yang diatas rata-rata dan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Secara umum kita bisa melihat bahwa proses rekrutmen di dunia kerja melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah seleksi administrasi, tahap kedua adalah tes psikologi, dan tahap akhir adalah wawancara. Mahasiswa yang akademikus akan dengan mudah lolos seleksi administrasi karena memiliki IPK yang tinggi, begitu juga dengan aktivis mahasiswa, walaupun dengan IPK yang tidak terlalu tinggi. Ditahap kedua adalah tes psikologi mahasiswa. Kedua tipe mahasiswa tersebut memiliki kelebihan masing-masing, namun aktivis mahasiswa lebih unggul karena sudah sering berinteraksi dengan berbagai masalah di masyarakat sehingga kemampuan untuk memecahkan masalah (psikologi) lebih baik. Pada tahap ketiga yaitu wawancara. Aktivis mahasiswa jelas jauh lebih unggul, karena sudah terbiasa berkomunikasi dengan banyak orang sehingga dalam wawancara ia dapat melewatinya dengan lebih tenang. Berbeda dengan mahasiswa yang akademikus, ia akan kesulitan saat tahap ini karena tidak terbiasa berinteraksi dengan orang lain.

Bagaimana menjadi aktivis yang akademikus? Di atas sudah terlihat bahwa aktivis dan akademikus adalah dua hal yang memiliki kelebihan masing-masing. Jika dua hal tersebut digabungkan maka akan menghasilkan kemampuan yang lebih hebat.

Cara agar menjadi aktivis yang akademikus adalah dengan mengikuti kegiatan kemahasiswaan yang bersifak keilmuan. Di kampus, kegiatan kemahasiswaan tidak hanya terbatas pada kegiatan “politik” tapi juga terdapat organisasi kemahasiswaan yang bersifat keilmuan. Dengan mengikuti organisasi mahasiswa yang bersifat keilmuan, mahasiswa dapat berlatih untuk berinteraksi dengan banyak orang sekaligus memperdalam kemampuan akademiknya.

Organisasi keilmuan sering kali terlupakan oleh mahasiswa. Ini yang menyebabkan pemikiran bahwa aktivis dan akademikus itu tidak dapat disatukan. Padahal dengan cara tersebut dua hal yang berbeda ini masih bisa disatukan. Dengan bergabung pada organisasi keilmuan, waktu yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit, karena dalam satu kegiatan kita bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus, yaitu kemampuan berorganisasi dan kemampuan akademik.

Dengan demikian, mahasiswa tetap dapat menjalani kuliah dengan baik dan mendapatkan kemampuan berorganisasi yang tidak dimiliki oleh semua mahasiswa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: